(AL IQRO’ Ampenan) Setiap Warga Negara Indonesia pastilah mengerti apa arti kata saudara dan persaudaraan. Semua juga pasti sangat memahami bahwa dua kata tersebut sangat berbeda arti dan pemaknaanya. Pengamat sosial budaya Dr. Dewa Wijaya dalam diskusi singkat melalui sambungan telepon, sempat menyinggung dua kata tersebut, tidak spesifik dari sisi arti dan makna. Namun lebih mendasar pada pemahaman akar sebab dan sejauh mana peng-implemetasi-an kedua kata tersebut terjabar dalam keseharian kehidupan bermasyarakat.
“Kita semua pasti mengetahui bahwa saudara adalah orang-orang yang terhubung dengan kita karena pertalian darah, berdimensi fisik. Sementara persaudaraan adalah orang-orang yang terhubung dengan kita karena pertalian hati, ini berdimensi spiritual,” Ungkap Dewa di awal pembahasannya mengenai dua kata tersebut, melalui sambungan telepon Kamis (22 7 21).
“Saudara terkadang tidak membuat kita bahagia. Yang jauh lebih sering membuat kita bahagia adalah persaudaraan,” ungkap pria yang saat ini masih tercatat berdinas di Kesatuan Mabes Polri tersebut.
Ayah dari 3 putra putri ini, memiliki pengalaman panjang dalam keorganisasian. Di sisi lain Ia juga memiliki sebelas saudara kandung, dan puluhan saudara angkat. Mendiang orang tua Dewa yang dikenal sebagai pejuang kemerdekaan bergelar Barak Trunajaya, pasca masa perjuangan sangat gemar mengangkat anak asuh yang Ia didik dan besarkan di rumah tinggalnya sendiri, bersama seluruh keluarga besarnya. Pengalaman hidupnya itu yang akhirnya membuat Dewa memahami benar makna arti kata saudara dan persaudaraan itu.
“Ada 4 tipe manusia dalam konteks saudara dan persaudaraan. Yang pertama saudara yang menunjukkan persaudaraan. Inilah surga. Yang kedua bukan saudara namun menunjukkan persaudaraan. Ini adalah kebahagiaan atau happiness. Yang ketiga bukan saudara dan tidak menunjukkan persaudaraan. Ini disebut ketidakbahagiaan atau unhappiness. Dan yang keempat saudara tapi tidak menunjukkan persaudaraan. Inilah neraka,” kata prajurit yang beberapa tahun lalu pernah menjabat sebagai Kasat Reskrim Polres Bandara Soeta dan dikenal dengan panggilan AKP Dewa Wijaya tersebut.
Lanjut dijelaskannya bahwa formula yang dibutuhkan untuk memunculkan rasa persaudaraan adalah rasa terhubung antar satu dengan yang lain. Ibarat satu tubuh, semua akan merasa tidak nyaman saat salah satu bagian dari tubuh sedang dalam kondisi sakit. Sebaliknya semua akan ikut bahagia saat yang sakit telah pulih kembali.
“Kita merasa senang jika saudara kita mendapatkan kebaikan, dan kita merasa sedih saat saudara kita mendapatkan keburukan. Inilah yang dianalogikan sebagai satu tubuh. Kita selalu berhubungan dengan saudara kita meski kita sedang tidak membutuhkannya,” ungkap Dewa.
“Berbeda dengan kondisi sekarang yang kita sering lihat dilakukan oleh banyak orang. Komunikasi intens hanya akan terbangun saat ada keperluan atau kebutuhan saja, dan kerap kali hubungan yang terbangun dari cara ini bersifat simbiosis parasitisme. Satu untung, pihak lain buntung,” kelakar Dewa sambil tertawa lepas.
“yang parahnya, kondisi itu terjadi murni karena kurangnya wawasan tentang etika persaudaraan. Jadi bukan murni kesengajaan, hanya lebih karena kurangnya pemahaman para pihak tentang pengetahuan etika ini.” tutup Dewa dengan warna suara yang sesaat langsung menjadi sangat serius. (red)





