Dewa Wijaya: QQ (Qualifying Quotient) Faktor Penentu Utama Keberhasilan Manusia

Bagikan

dokumen penyelenggaraan salah satu agenda saat DW bertugas di polsek serpong, polres tangerang kabupaten

(AL IQRO’ Mataram) Pengamat sosial budaya I Dewa Nyoman Agung Dharma Wijaya mengungkap faktor baru yang menjadi kemampuan terpenting bagi seorang individu, dalam upaya mencapai tujuan-tujuan besar dalam hidupnya. Faktor ini juga menjadi salah satu barometer utama untuk mengukur level kapasitas kemampuan seseorang, setelah IQ, EQ dan SQ.

“Istilah QQ ini memang baru kali ini mau saya ungkap, karena menurut saya sudah perlu untuk diinformasikan kepada publik. Ini juga sekaligus untuk menjawab kebingungan sebagian orang yang terkadang sulit menerima dan tidak menemukan alasan yang menurut mereka masuk akal, saat seseorang akhirnya meraih capaian besar atau posisi yang tinggi,” ungkap Dewa Wijaya menyambung wawancara yang sempat disudahinya beberapa hari sebelumnya melalui sambungan telepon (10 06 20).

Disebut Dewa, QQ (Qualifying Quotient) atau kemampuan mengkualifikasi / memilah adalah kompetensi terpenting yang wajib dimiliki seseorang dalam membaca dan mengklasifikasikan data yang bertebaran di alam semesta. Baik data yang berkaitan dengan manusia maupun faktor lain yang akan berkaitan erat dan belakangan sangat menentukan tercapai tidaknya suatu tujuan.

“Seperti IQ, EQ dan SQ. level QQ satu orang dengan orang yang lain tentunya juga berbeda-beda. Jadi tinggi rendahnya level QQ sesorang yang akan sangat menentukan nasib orang tersebut,” sambung Dewa Wijaya.

Gambaran penjelasan yang bisa dijadikan contoh awal dari apa yang disebut Dewa sebagai bentuk dari kompetensi QQ ini, adalah kemampuan membaca luasan dan potensi penting tidaknya jaringan orang lain, dengan rencana visi masa depanya sendiri. Sehingga ia akan mengetahui sejauh mana ia harus berinterkasi dengan orang-orang tersebut. Luasan dan level penting tidaknya jaringan orang lain ini lebih sering tidak ditampakan secara fulgar. Sehingga sangat membutuhkan kebiasaan dan keluesan untuk bisa mencari dan memilah data dari jaringan tersebut.

“Begitu pula dengan data lain selain jaringan manusia. Diantaranya seperti kemampuan melihat dan membaca serta memilah data potensi suatu wilayah tertentu, data dan potensi cuaca dan musim, data dan potensi historis personal dan kelompok dan lain sebagainya. Semua data dan potensi yang saya maksud tentu yang berkaitan dengan visi yang akan dituju,” sambung Dewa yang saat ini tercatat masih aktif sebagai Perwira Polri berpangkat AKBP tersebut.

Lebih jauh DW menjelaskan bahwa hasil pembacaan dan pemilahan data dan potensi itulah yang akan dijadikan acuan dalam membuat suatu kesimpulan. Kemudian menjadi bahan utama dalam membuat suatu keputusan, tentang apa dan bagaimana langkah strategis yang harus dilaksanakan dalam upaya mencapai tujuan tersebut.

“Level kemampuan QQ seseorang yang tinggi merupakan bentuk bakat yang dibawa dari lahir, yang kemudian dipelihara, diasah dan dilatih dengan benar. Jika sudah matang, kemampuan QQ akan bisa berjalan otomatis. Orang dengan kapasitas itu tentunya sudah mahir dan tidak perlu lagi dipertanyakan kapasitas IQ, EQ dan SQ-nya.” jelas Dewa yang saat menjabat selaku Kpolsek di Serpong Banten dikenal dengan panggilan AKP Dewa Wijaya.

Dari sudut kacamata awam, orang dengan level QQ yang mumpuni akan tampak seperti orang yang memiliki keberuntungan yang besar. Sehingga dalam ilmu perhitungan peruntungan china atau feng shui, istilah QQ identik dengan perwakilan angka tertinggi sebelum mencapai nilai seratus. Yaitu angka 99 sebagai angka keberuntungan.

“Jadi sebenarnya keberuntungan itu bukan sesuatu yang instan dan bukan juga barang yang jatuh dari langit begitu saja. Tapi merupakan skill menghitung pertanda dan data serta potensi yang tersebar di seluruh alam semesta.” kata Dewa Wijaya.

“Nah… ujung akhrinya memang campur tangan Tuhan Yang Maha Esa-lah yang memilih dan menganugerahkan kepada siapa saja kemampuan QQ itu berkenan Ia berikan. Jadi jangan heran jika ada orang yang menurut penilaian kita tampak tidak berkompeten mengemban jabatan atau posisi tertentu, namun malah bisa sampai pada posisinya tersebut saat ini.” ucap Dewa Wijaya mengakhiri penjelasnya. (red)

Bagikan

Berita Terkait