Dewa Wijaya: Apapun Sakitnya, Obatnya Kasih Sayang

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on pinterest
Dr. Dewa Wijaya (ke-3 dari kiri) saat bersama keluarga dan family terdekat dalam suatu momen kebersamaan

(Ampenan, 21_8_21) Setiap orang normal pasti pernah sakit. Baik sakit yang ringan atau berat, yang bersifat fisik atau psikis. Pada masa sakit ini, hampir semua orang akan merasa tak nyaman dan akan berusaha dengan segala cara untuk kembali sembuh.

“Yang namanya sakit, apapun bentuknya pasti tidak akan terasa nyaman. Semua orang yang menyadari dirinya sedang sakit, pasti akan berusaha mendapatkan kesembuhan, apapun caranya,” Sebut Dr. Dewa Wijaya, seorang pemerhati sosial budaya berdarah asli Pulau Dewata.

Dilanjutkanya, upaya mendapat kesembuhan dari penyakit fisik. Secara umum akan dicari melalui jalur medis maupun pengobatan alternatif. Sementara penyakit psikis mengharuskan penderitanya menjalani penanganan yang khusus oleh tenaga khusus pula.

“Padahal menurut saya obat yang paling efektif, baik untuk pengobatan penyakit fisik atau mental adalah kasih sayang yang tulus dari orang-orang terdekat,” ungkap pria yang memiliki 3 putra putri ini.

Menurutnya, sehebat apapun pengobatan medis dan alternatif. Tidak akan bisa berbuat banyak jika si penderita tak memiliki kemauan yang cukup untuk meraih kesembuhanya. Semangat untuk sembuh ini, hanya bisa dikobarkan oleh kasih sayang yang tulus dari orang-orang terdekatnya.

“Memang kesembuhan penderita yang mendapat kasih sayang penuh itu, angkanya tidak seratus persen. Namun bisa dipastikan bahwa penderita yang sama sekali tidak mendapat kasih sayang, seratus persen akan segera mati. Karena hanya kasih sayang yang akan bisa menumbuh suburkan motivasi untuk sembuh,” papar pria berpangkat melati dua di tubuh Polri tersebut.

Lantas bagaimana dengan penderita yang sembuh oleh motivasi dendam? Jelas diketahui bahwa dendam bukan bentuk kasih sayang yang tulus.

“Perlu diingat bahwa hakikat dari kesembuhan adalah berangkat dari kondisi tidak baik atau tidak sehat, menuju kondisi pulih kembali atau sehat kembali. Bukanya berpindah dari kondisi sakit awal ke kondisi sakit berikutnya. Kan cukup jelas bahwa orang-orang sakit yang termotivasi kesembuhanya oleh dendam atau hal-hal yang kurang baik, hanya akan berpindah dari sakit awal ke penyakit baru yang berbentuk lain,” jelas perwira Polri yang tercatat pernah mengemban tugas sebagai Kasat Reskirm di Polres Bandara Soeta dan terkenal dengan panggilan AKP Dewa Wijaya itu.

“Disisi lain, bagi semua orang yang mendapat curahan perhatian dan kasih sayang tulus yang cukup. Meski tidak mendapat kesmbuhan karena takdir Tuhan berkehendak lain, tentunya telah memiliki bekal kebahagiaan yang cukup, yang bisa jadi kadar kebahagiaanya melebihi kesembuhan itu sendiri,” pungkas Dewa menjelaskan betapa berharganya nilai kasih sayang bagi ketentraman jiwa manusia normal. (red)

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on pinterest

Berita Terkait