(Mataram, 17_9_21) Abdul Rahman, Ketua Komisi Tiga DPRD Kota Mataram menceritakan pengalaman yang menurutnya cukup unik. Pengalaman yang memunculkan dua perasaan yang bertentangan dalam hatinya. Pertama ia merasa prihatin mengetahui kondisi budaya dan seni di Mataram. Kedua Ia mengaku bahagia dipercaya masyarakat penggiat seni budaya, untuk menceritakan harapan mereka kedepan.
“Di hari yang sama saya diundang hadir pada dua agenda seni budaya, oleh dua komunitas yang berbeda. Paginya oleh komunitas para senior seni budaya dan malamnya oleh para junior, anak-anak muda penggiat seni budaya di Mataram.” kata Abdul Rahman, wakil rakyat dua periode tersebut.
Pada agenda pertama banyak informasi yang diterima Rahman tentang pentingnya memelihara seni dan budaya tradisi saat ini. Derasnya serbuan kebudayaan luar akibat perkembangan teknologi informasi, membawa ancaman pengaruh negatif yang sangat buruk terutama bagi anak-anak. Ditambah kondisi pandemi yang mewajibkan anak harus lebih banyak berinteraksi menggunakan gawai pintar dan mengurangi aktifitas di luar rumah.
“Sekolah daring memaksa kita para orang tua membiarkan anak memegang HP cukup lama. Padahal menurut penelitian banyak sekali potensi masalah yang mengancam masa depan anak sebagai akibatnya.” Ungkap Rahman menceritakan materi yang dibahas pada agenda pertama, oleh para pelaku seni budaya di Ampenan, Kamis (16_9_21).
Diceritakanya bahwa pada agenda tersebut hadir Ketua Aliansi Majelis Adat Nusantara, Ketua Majelis Adat Sasak Mataram dan aktivis seni lain. Hadir juga sejumlah akademisi, mulai dari guru sekolah, dosen, mahasiswa, Kaprodi Seni dan Wakil Rektor UNU NTB serta Fasilitator Kebudayaan dari Kementerian Dikbud Ristekdikti RI. Terungkap bahwa salah satu solusi mengantisipasi ancaman pengaruh buruk perkembangan teknologi itu adalah kesenian dan kebudayaan tradisi. Namun sangat disayangkan bahwa perhatian pemerintah di Kota Mataram sangat minim terhadap kesenian dan kebudayaan tradisi ini. Para pelaku seni dan budaya sering kebingungan saat akan membahas permasalahan yang terjadi dengan unsur pemerintah. Karena seperti tidak ada bagian dari pemerintahan di Mataram yang mengurusi perihal tersebut.
“Di Pusat ada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Ristekdikti. Di Provinsi ada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Di Mataram tak ada nomenklatur itu, yang ada hanya Dinas Diknas. Walau didalamnya ada bidang kebudayaan namun seperti tidak ada.” Ungkap Rahman.
“Untuk mendukung pemajuan kebudayaan di daerah banyak sekali dana pusat yang bisa dijemput. Namun karena kurang eksisnya pemda dalam urusan ini, kebudayaan tradisi kita jadi seperti sekarang. ‘ke atas tak berdaun, ke bawah tak berakar’. Padahal di daerah tetangga yang lain seni budaya tampak hidup subur dan berkembang. Contohnya sekarang kementerian sedang membuat agenda pemajuan seni budaya daerah. Namanya FBK, yang lolos tidak ada dari Mataram,” sebut Rahman mengilustrasikan kondisi seni budaya di Mataram saat ini.
Banyak juga agenda seni budaya lain yang sudah tidak lagi berjalan di lingkup sekolah. Seperti program seniman masuk sekolah yang pembiayaanya sudah disediakan oleh pemerintah pusat, di Mataram sudah tidak terdengar lagi. Sementara di daerah tingkat dua lainya sampai sekarang masih berjalan baik. Padahal sebenarnya Mataram memiliki banyak pelaku dan akademisi seni dan budaya yang berkualitas. Namun kurangnya perhatian dari pemegang kebiajakan membuat iklim seni budaya tradisi di Mataram kian tergerus.
“Ketua AMAN Miq Wangsa malah menilai bahwa harusnya ada dinas sendiri yang mengurusi urusan seni budaya ini. Mengingat pentingnya memlihara kebudayaan tradisi dalam menghadapi serangan budaya internet. Masak olahraga saja punya dinas sendiri, padahal kita kan berkebudayaan setiap hari dalam setiap aspek kehidupan,” lanjut Rahman mencontohkan yang diungkapkan Ketua AMAN Lalu Satria Wangsa pada pertemuan itu.
Usai agenda di Ampenan, Rahman kembali mendapat undangan para pemuda Selaparang, yang berkonsultasi tentang rencana mereka meresmikan sanggar seni yang mereka rintis secara suadaya. Sekaligus meminta Politisi senior dari Partai Gerindra itu agar bersedia dijadikan pembina mereka.
“Ini yang membuat saya sangat bahagia, mereka mempercayai saya untuk mengayomi kesenian dan budaya di Mataram. Meski bukan bagian tugas saya di Komisi 3, namun saya adalah wakil seluruh masyarakat Mataram. Tidak terkecuali para penggiat seni dan budaya. Saya bahagia sekali,” ungkap Rahman menutup percakapanya. (red.)





