(AL IQRO’ Mataram) Idealnya kebaikan pasti akan dibalas dengan kebaikan. Begitu pula sebaliknya, tindakan tidak terpuji akan terbalas dengan ganjaran yang tidak menyenangkan pula. Jika berbuat baik pada seseorang maka si pelaku akan menerima balasan berupa hal baik pula, minimal rasa terimakasih yang ditunjukan dengan ucapan ataupun perbuatan. Bahkan bukan hanya kepada sesama manusia saja, perbuatan baik kepada hewan sekalipun sangat sering terdengar dalam banyak kisah, akan dibalas ganjaran kebaikan dari hewan tersebut secara langsung.
“Kebaikan biasanya dibalas dengan kebaikan. Namun terkadang situasinya akan jauh berbeda saat kita berurusan dengan manusia tertentu. Karena ada beberapa orang yang entah karena sebab apa, seperti sama sekali tidak mengerti arti balas budi atau rasa terimakasih,” ungkap I Dewa Nyoman Agung Dharma Wijaya, seorang pengamat sosial budaya di Jakarta, Selasa (26 05 2020).
Dewa Wijaya sengaja membahas khusus tentang sifat manusia tertentu ini, untuk sekedar mengingatkan bahwa dalam perjalanan hidup. Terkadang kita harus berjumpa dengan orang-orang dengan sifat yang tidak biasa itu. Sehingga kita bisa mempersiapkan diri secara mentalitas, jika sampai harus berhadapan dengan pihak dengan sifat khusus tersebut.
“Jadi maksud saya kita jangan sampai heran berlebihan, jika suatu saat sampai harus bertemu dan berinteraksi dengan orang-orang yang memiliki sifat seperti itu. Karena kenyataanya memang ada orang-orang yang entah karena apa, memiliki kebiasaan yang seperti itu.” Lanjut Dewa yang saat ini masih terdaftar aktif sebagai anggota Polri berpangkat AKBP ini.
“Sebagai contoh, ada orang yang awalnya meminta bantuan tertentu. Setelah mendapatkan apa yang diminta, lantas meminta lagi lebih besar dan lebih besar, bahkan terkadang dengan sedikit mengancam. Setelah mendapatkan semua yang dia minta, orang yang membantunya lantas dijerumuskan agar rahasia kisahnya tadi terkubur rapi,” celotehnya yang beberapa tahun lalu sempat menjabat sebagai Kapolsek di Serpong Banten dan dikenal dengan panggilan AKP Dewa Wijaya.
“ilustrasinya begini,… Awalnya dia minta buah. Belakangan terus minta pohonya. Selanjutnya sama kebunya diminta juga. Setelah itu yang punya kebun dikuburkan juga dengan tanpa ada rasa bersalah sama sekali,” kata Dewa Wijayaa memberi contoh dengan ilustasi.
DW menyebutkan bahwa sifat seperti itu memang tidak banyak dipelihara oleh manusia, terutama untuk orang-orang yang hidup dan di didik dengan budaya timur seperti di Indonesia. Hanya saja memang akhirnya ada beberapa orang yang mungkin dengan sangat terpakasa harus menggunakan sifat yang nampaknya sangat kurang terpuji tersebut.
“Mungkin ada sebab yang berat sehingga seseorang akhirnya dengan sangat terpaksa harus menggunakan sifat itu. Meski tidak ada literaturnya sama sekali dalam adat, budaya, tradisi maupun aturan manapun yang akan membenarkan prilakunya tersebut,” jelas DW.
“Karenanya kita harus sangat berhati-hati sebelum berinteraksi dan memutuskan untuk membantu orang tertentu. Karena terkadang saat membuat keputusan yang kurang tepat itu, malah kita yang akan menerima konsekuensi panjang dan harus berhadapan dengan masalah berkepanjangan pula,” sebut DW sembari menegaskan kalimat terakhirnya tersebut. (red).





