(AL IQRO’ Mataram) Berbhakti pada masyarakat, Bangsa dan Negara, adalah kalimat sederhana yang sudah sangat akrab terdengar di telinga seluruh rakyat Indonesia. Satu kalimat yang merujuk pada suatu bentuk kewajiban, yang sebenarnya harus diamalkan oleh setiap individu yang faham arti budi pekerti.
Namun kewajiban berbhakti kepada Negara ini sering kali tidak bisa terlaksana, seperti idealnya dilakukan oleh setiap individu anak bangsa.
“Tidak terlaksananya kewajiban untuk berbhakti ini, biasanya disebabkan faktor personal dari individu yang bersangkutan. Namun dalam kondisi tertentu faktor eksternal dari individu juga bisa menghalau seseorang untuk bisa berbhakti pada Bangsanya,” ungkap I Dewa NA Dharma Wijaya dalam suatu kesempatan di Jakarta, Sabtu (28 11 20).
“Jadi faktor internal dan eksternal akan sangat menentukan, apakah bhakti seseorang untuk negerinya akan bisa dilaksanakan atau tidak.” Sambung pria yang saat ini tercatat mengemban salah satu jabatan di Mabes Polri.
Faktor internal yang dimaksud lebih kepada kemampuan dan kemauan atau rasa kepedulian. Dua faktor internal ini sangat umum terdengar menjadi penentu bagi seseorang, untuk akhirnya bisa melaksanakan kewajibanya mengabdi pada negerinya.
Sementara yang jarang terdengar adalah bentuk faktor eksternal yaitu kesempatan yang diberikan kepada seseorang untuk bisa berbhakti kepada negerinya ini.
“Faktor eksternal ini sangat vital. Sangat menentukan apakah seseorang akan bisa menjalankan bhaktinya atau tidak. Meskipun mau dan mampu, namun jika tidak diberi kesempatan, maka ‘giroh’ bhakti ini tidak mungkin bisa dilaksanakan” jelas perwira Polri yang saat mengabdi sebagai Kapolsek di Serpong Banten dikenal dengan panggilan AKP Dewa Wijaya ini.
Faktor kesempatan ini terhalang untuk didapatkan, lebih sering disebabkan oleh hal yang tidak rasional. Lebih karena faktor sejarah atau faktor suka atau tidak suka dari orang lain.
“Sebab yang paling sering adalah biasanya karena adanya faktor suka dan tidak dari para pihak yang berkaitan dengan penentuan kebijakan. Kemauan dan kemampuan serta kepedulian jadi harus tertahan untuk diimplementasikan dalam bentuk bhakti pada negeri.” ungkap Dewa Wijaya.
“Namun kita semua harus tetap meyakini bahwa apapun yang terjadi pasti adalah yang terbaik. Tanpa merasa ragu sedikitpun bahwa semua kejadian pasti berlandaskan pada kehendak Yang Maha Kuasa.” Tutup pria berdarah Bali tersebut. (red)





