Dewa Wijaya: Pemilik Hati Kotor Dan Rendah Sering Kali Adalah Orang Kaya

Bagikan

Dr. Dewa Wijaya saat menjalani ritual rutin kegamaanya / ilustrasi hati yang rusak

(Ampenan, 16_8/21) Banyaknya harta dan tingginya pendidikan seseorang sudah pasti akan tergambar jelas pada fisik lahir pihak tersebut. Orang kaya biasanya akan tampil gagah, cantik dan wangi, sementara orang pintar akan menonjol cara berkomunikasinya. Namun siapa sangka kekayaan dan kepintaran sering membuat hati manusia menjadi kotor dan rendah.

“Orang kaya dengan duitnya bisa ke salon tiap hari, gonta-ganti mobil dan rumah tiap waktu, sekolah tinggi-tinggi sampai luar negeri. Semua bisa dilakukan dengan mudah, yang bikin mereka jadi tampil memukau dimata orang lain,” sebut Dr. Dewa Wijaya, seorang pemerhati sosial budaya kelahiran Singaraja – Bali, Senin (16_8/21).

“Kemewahan tampilan fisik dan kepandaian otak bukanlah sesuatu yang sulit diraih dan dirawat. Keduanya merupakan hal yang tampak secara zahir. Sehingga jika ada sesuatu yang kurang pada keduanya akan mudah terdeteksi dan bisa diperbaiki,” Sambung pria bergelar Doktor Cum Laude tersebut.

Dewa menjelaskan bahwa tampilan zahir dan performance seseorang tidak lantas menjamin kualitas kepribadianya selaras dan sesuai dengan kedua hal itu. Karena kepribadian manusia lebih dipengaruhi oleh kualitas hatinya masing-masing.

“Kualitas hati ini tidak ada yang bisa melihat secara langsung. Hanya akan tergambar dari sikap prilaku dan kepribadian keseharian seseorang. Kualitas hati sering kali tidak berbanding lurus dengan kapasitas zahir dan daya pikir manusia. Namun akan sangat dipengaruhi oleh pendidikan mental yang umumnya didapatkan dari ilmu agama dan budaya,” sambung pria yang kini masih terdaftar sebagai prajurit di Mabes Polri di Jakarta itu.

Perjuangan keras manusia dalam mengejar status sosial dan kekayaan sering kali menyebabkan pengetahuan agama dan kebudayaan menjadi terpinggirkan. Banyak orang jadi lebih mementingkan kebutuhan fisik semata dan melupakan kebutuhan hatinya.

“Keringnya hati menyebabkan manusia menjadi tidak peka. Lebih sering menilai negatif semua orang dan semua hal diluar dirinya. Memandang rendah orang lain menjadi lumrah dan menghalalkan segala cara untuk meraih ambisi, menjadi kebiasaan sehari-hari. Dalam fase ini artinya, hati manusia itu sudah menjadi kotor dan rendah,” tegas Dewa yang saat menjabat sebagai Kasat Reskim d Polres Bandara Soeta dikenal dengan panggilan AKP Dewa Wijaya itu.

“Badan yang kotor akan mudah terlihat dan mudah dibersihkan. Kalau hati sudah kotor dicuci dengan air tujuh samudera pun belum tentu bisa bersih kembali,” ungkap Dewa menutup kalimatnya dengan intonasi suara pelan dan pandangan yang menerawang. (red)

Bagikan

Berita Terkait