(Ampenan, 1_9_21) “Mensana‘ itu tak selalu berujung ‘in corpore sano’, karena terkadang jiwa yang kuatlah yang membuat tubuh menjadi sehat,” ungkapan berbahasa latin itu mengawali fokus perbincangan bersama Dr. Dewa Wijaya hari itu, Selasa (31_8_21).
Pemerhati sosial budaya berlatar pendidikan hukum itu menyoal rumitnya situasi kesehatan masyarakat beberapa tahun terakhir. Pandemi membuat hampir semua orang di seluruh dunia panik luar biasa.
“Kewaspadaan dan menjalankan prokes itu memang wajib dilakukan, sebagai bentuk antisipasi pribadi dan kontribusi pada kemaslahatan masyarakat. Namun jangan juga sampai membuat diri terbelenggu berlebihan.” papar pria yang masih tercatat berdinas di Mabes Polri itu.
“Karena kondisi fitalitas tubuh juga sangat tergantung oleh kestabilan kondisi kejiwaan, dan stabilitas kejiwaan sangat bergantung pada pola pikir dan cara pandang kita sebagai manusia normal,” sebut Perwira Polri yang kini masih menyandang pangkat melati dua itu.
Dikatakannya bahwa tubuh manusia sering kali sangat responsif terhadap kekuatan daya pikir. Dicontohkan dengan reaksi tubuh yang terjadi secara reflek, hanya oleh ingatan tentang suatu hal tertentu.
“Sekarang coba bayangkan ada sebuah jeruk nipis berwarna hijau agak ke kuning-kuningan. Jeruk itu anda potong jadi dua dan pegang salah satunya lalu peraslah… Sampai air tetesannya mengucur…
Apa yang anda rasakan? Asam bukan?
Setiap tetesannya membuat anda menelan ludah.
Kalau imajinasi anda cukup kuat, sekarang anda sedang menelan air liur saking asamnya, betul..? Padahal jeruknya tidak ada…” Ungkap Dewa mengilustrasikan contoh kekuatan imajinasi dalam fikian.
Kekuatan ini terbukti secara singkat mampu membuat reaksi nyata pada tubuh. Sehingga tidak menutup kemungkinan kejadian serupa juga berpengaruh pada kesehatan banyak orang di masa seperti sekarang ini.
“Jadi maksud saya, mungkin ada kala dimana kita perlu untuk khawatir dan waspada. Namun tidak lantas harus ketakutan berlebihan. Karena ketakutan itu malah bisa memunculkan penyakit, sebagai bentuk reaksi dari tubuh atas pikiran yang paranoid tadi,” sebut prajurit yang beberapa tahun lalu sempat menjabat sebagai Kapolsek Serpong di Tangsel dan akrab dengan panggilan AKP Dewa Wijaya.
“Dan sebaliknya, jika kekuatan pikir kita arahkan ke ranah positif. maka pasti jiwa akan menjadi kuat dan optimis. Saya sangat yakin tubuh juga akan merespon positif kondisi itu. Namun tentunya semua tetap kembali kepada ketentuan dari Yang Maha Kuasa,” pungkasnya dengan kalimat optimis. (red)





